Bukan Sekarang


Jika hati dapat memberi keputusan terbaik, lalu apa arti dari rasa perih yang ditinggalkannya? Masalah tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan saja bisa sebegini menyayat. Belum lagi kuncup kecil yang harus kuterlantarkan di belakang sana. Kuncup mungil yang tak bersalah dosa apapun. Ialah rencana indah hari depanku yang kugadang-gadang sedari dulu. Di belakang sana, entah masih ada atau binasa.

Benarkah jika sebuah kesalahan dapat memberikan efek domino bagi si pembuatnya?. Faktanya memang semua ini tak jua usai. Lunglai sendi-sendiku kau paksa berjalan. Terus saja tanpa satupun titik hentian. Kemana lagi kita?. Aku lelah terus melangkah mengikuti angin. Sebutlah satu nama! Utara? Selatan? Barat? Timur? Ke mana...

Baiklah, biarkan kuikuti dulu arah anginmu. Angin sejuk yang seketika bisa menjadi badai. Angin yang membelai dalam langkah gontai. Angin yang memperdaya. Tanpa arah, membawaku berkali-kali ke tempat yang salah. Tapi tetap saja aku menikmati kesejukanmu. Masih terus mencarimu. 

Salah?. Entahlah... Tak boleh jatuh lagi di lubang yang sama, kata mereka. Bagaimana bisa kuputuskan, sementara tak kulihat di mana arah tujuan. Benarkah tak ada?. Atau perangkap itu lebih dahsyat dari yang lalu?. Seperti biasanya, tak mau menuduhkan sesuatu pada yang belum tentu.


Tidak ada yang akan sia-sia dari benih bernama kebaikan. Sekecil apapun. Yok semangat :)

0 comments:

Posting Komentar