Note 7

Diam ini menyelamatkan, diam ini menenangkan
Tanganku masih dapat merasa meski jiwaku tlah sedikit mati rasa
Sekuat apa pertahananku
Berapa lama lagi ini mencapai akhirnya
Sandiwara macam apalagi harus kumainkan
Lelah aku jadi pemeran utama dalam cerita tak bahagia
Bukakan pintu itu untukku, wahai Kau penentu hidup manusia

Sampaikan pada hari esok jika aku tak ingin menemuinya lagi
Sudah kukirimkan pesan selamat tinggal
Maafkan aku tak setia, ku ingin pergi ke dalam fana

Sudah...tak perlu lagi menangisi hati
Seperti ini telah jadi makanan sehari-hari
Teman hidup hingga mati

Inginku berteriak hingga merobek langit-langit surga
Menggelegar ke dasar neraka

Harap lenyap dalam puing tak berarti
Terluka dalam robekan seribu belati

Sakit tersiksa luka menganga
Hanya merangkak tanpa arah. Kenapa?
Karena tlah kucoba berjalan tapi tak bisa

Hentian...aku merinduimu



Note 6

Selamat malam kesayangan...
Bagaimana harimu? Aku hanya sekedar ingin tahu
Hari ini kutemui sesuatu yang lain.
Sesuatu yang memenuhi hatiku tapi tak menyesakkannya

Kau ingin tahu? Ah tapi kau tahu lebih banyak dari diriku sendiri
Candumu berjalan lebih cepat dari langkah kakiku

Rasaku takkan menuntut balas karena ini cinta yang ikhlas
Kau tak perlu memikirkan tentangku, pun hiruk pikuk hidupku
Berjalanlah, berbahagialah
Tawa lepasmu adalah penawar semangat yang patah

Lenteraku tak cukup terang, namun keyakinan padamu lebih dari benderang
Perjalanan kita masih teramat panjang
Sederet tujuan masih berkutat dalam angan
Menunggu gilirannya
Menanti dalam sabarnya

Jadi cukuplah setinggi ini dulu gapaianku



Note 5

Sesakit inikah perasaan yang terkoyak oleh ketidakpastian
Menelisik harapan akan penopang langkah-langkahku
Kau yang entah berada di mana
Kenanganmu terbungkus rapi dalam ingatan
Kujelajahi lagi dan lagi, mengisi kekosongan setelah hadirnya malam

Kau terasa jauh dari duniaku ini
Sekiranya dapat kuraihmu, jalan seperti apapun 'kan kutempuhi
Tak peduli kakiku terluka berdarah tergores duri

Aku akan terus berjalan menujumu
Jika mungkin semua tak seperti mauku, tetap ku berbahagia pernah memperjuangkanmu

Kehidupan punya banyak jalan
Perbedaan, kesamaan, masa lalu, dan kini
Ekspektasi hanya bagian dari ilusi
Maka berjalanlah bersamaku lagi
Agar hari esok tetap secerah seperti ini



Note 4

Belum dapatkah kau menyelami dalamnya perasaan?
Karena tak satupun dapat kutelaah dari caramu melempar kata.
Pun demikian tatapanmu, sulit kubaca.

Apa yang tercipta dari sebuah kisah saat semua berakhir sebelum awalnya.
Pertanyaan. Hanya itu.
Yang akan kucari jawabannya sendiri

Kesalahankah jika kaki ini masih saja membawa langkahku padamu...
Maka di mana sebenarnya hentianku berada?

Sejengkal demi sejengkal jarak antara kita kian melebar
Kemudian lenyap di hari berikutnya
Ada sesal merangkak naik menyekat kerongkongan

Bolehlah ini kau sebut arus lain petualanganmu
Awalku padamu dulu begitu istimewa
Cinta yang mengalir dalam diam tanpa jejak pada hari-hari sendiriku

Mengagumi dari jauh
Syukurku terbang ke langit melihatmu baik-baik saja

Maaf karena hanya ini yang ku bisa
Tak pandai merangkai kata dalam bicara

Namun meski beginipun caraku, segalanya dariku untukmu



Note 3

Tak lama setelah berlalumu, aku 'kan lebur menjadi abu.
Terbang terbawa angin kemarau. Tak berarti layaknya debu.

Bukan hatiku tak bersyukur atas semua, terlebih atas nikmat hidup kedua.
Coba menghitung sisa kekuatan, tak ada kudapati gambaran.

Kamu...
Sesaat kulihat senyummu, lantas ragumu di waktu yang lain.

Bisa saja kubelokkan langkah dan berlari pada putus asa.
Ah putus asa?
Bersabar padamu seperti ini terasa lebih nikmat ketimbang menyerah pada putus asa.
Jadi biarlah aku tetap tinggal.

Dan hari ini kau tampak begitu cerah. Aku suka warnamu itu.

Hai kau, mimpiku...
Terimakasih telah menjadi warna di hidupku.



Note 2

Sepatah kata, selembar harapan, aku!
Kepingan semangat berserakan di sana sini.
Belum sempat kurapikan kembali.
Sayang, tahukah kau jika duka masih menyelimutiku?
Mungkin aku yang terlalu lugu.

Sketsa kepedihan macam apa lagi yang harus kulalui...

Adakah aku pantas untukmu dengan segala yang kupunya saat ini?
Atau mungkin lebih baik berlalu saja

Bimbang masih menjadi sahabat baik
Bahkan kekasih setia di sisi lain duniaku

Mungkin benar salahku yang tak pernah mencarimu.
Tapi kaupun sama bukan?
Kita adalah kisah tak berawal.
Sketsa takdir yang manis. Demikian aku menyebutnya.

Aku tak pernah memintamu hadir. Begitupun kau, mungkin.
Jika ini adalah sebuah permainan, maka aku tak tahu aturan mainnya.
Sudahlah, lebih baik tak tahu.
Bahagia seperti ini saja sudah cukup.

Satu kali lagi kucoba menyusun kembali rasa percaya pada cinta sejati dan bahagia
Tak ingin berharap terlalu banyak tapi yang kau beri lebih dari sekedar harap.

Terasa begitu dekat aku dengan keyakinan.
Kepada lelaki manakah cinta akan terlabuhkan?

Sembari menjajaki rasa, biarlah diamku berkelana.
Tersisih di sisi hatimu pada akhirnya.

Di sini, aku masih wanita yang sama. Mencintamu penuh bak purnama.



Note 1

Malam dan gelap tetap begitu bersahabat.
Bosan rasanya terus membenamkan diri dalam keterasingan.
Pekat yang selalu menghampiriku, melebarkan lagi senyumku.
Apakah yang kutunggu itu akan datang?
Jika benar penantianku tlah berakhir, lalu kemana lagi langkahku tertuju setelah ini?

Kau... Seseorang itu... Aku ingin menemukanmu.
Tapi juga aku masih ingin mendekap erat kesepian.
Kesepian yang pahit namun tak pernah kurasa sulit.
Ah, hidupku toh akan segera menjumpai akhirnya.
Mungkin akhir yang bahagia, atau malah sebaliknya?
Rahasia!

Tentang kau, seseorang itu.
Tentang kau, the only angel in my life.
Tentang kau, takdir yang begitu rumit.

Benarkah itu kau, di depan mataku?
Lelah aku untuk bermimpi.
Sesak rasanya menelan kecewa.

Kau, seseorang itu.
Sekelumit kisah yang mengubah hidupku.
Akupun tak pernah meminta. Semua tampak tanpa usaha.
Tangan Tuhankah ini yang menuntun kita? Entahlah...
Apapun itu yang ku tahu aku menyayangimu, jauh sebelum hari ini
Jauh hingga tak terhitung lagi.



B.E.D.A

Mentari lagi merona
Pamerkan panas membakar dunia
Duniaku dan duniamu 
Yang kini kian jauh berbeda
Dulu segala cerita terbalut picisan sandiwara
Tapi semua terlepas perlahan
Terbang dengan separuh sayap bidadari

Temaram separuh lilin yang tersisa usai perjalanan itu
Jadi saksi bisu perjuanganku
Melawan derasnya arus cinta semu, cintamu
Hei kau
Ini cerita kau dan aku
Masih pantaskah kau kuperjuangkan
Rasaku tlah menguap bersama sisa air hujan
Rayuanmu! Pada sederet wanita-wanita hingga belia

Sore ini daun-daun masih berwarna hijau di ufuk pelangi
Persembahan cinta dari bumi ke angkasa tinggi
Tapi bagaimana bisa kunikmati hari, jika ragaku semacam ini
Tak ada daya upaya lagi

Isak tangis meradang menyayat sulur-sulur keyakinan
Untaian janjimu dulu telah menguap tertelan seribu bualan
Bercampur baur dengan selaksa kehancuran dan rasa tak percaya

Nama-nama itu tercatat jelas dalam kenangan
Sebagai pengingat pergulatan panjang atas nama kesetiaan
Kamu, dia, mereka
Ada juga diantaranya terabaikan

Selamat tinggal kau
Sedikitpun tentangmu tiada lagi dalam ingatan

Berantakan


 Angin bulan keempat, terasa menyejukkan membelai raga lelahku
Meski memang tak sesejuk tatapan matamu
Malam ini bulan sangat pemalu
Bintang-bintang pun sepemikiran
Hujan hanya menambah citra romantis yang kian membabi-buta
Kau terduduk di

depanku, dekat, sangat
Pandanganku lekat padamu
Tak beranjak…

Memelukmu dalam diam adalah kegemaran baruku
Kala sepi mulai menjalari malam
Rinduku membara telanjangi dunia
Kau hadir mengisi hari penuh elegi
Senyummu…kian memacu deras aliran nadi
Dan aku mencair…leleh, berantakan!
Pikiranku di luar kendali

Sekuel ini
Bak cinta masa remaja, cerita rasa surga
Menikmati tiap jengkal waktu denganmu, membuat detik berputar tak wajar
Sehari selaksa sekejap mata
Kau mempesona, seperti awan di puncak Himalaya

Dan kaulah cerita yang tak ingin ku tahu di mana akhirnya


LELAH


Waktu terus beranjak,  menjemput Sabtu pagi di sebelas April
Tik tok… tik tok…
Detak detik meninggalkan sang malam dengan gelapnya
Gelap, gelap yang kerap diartikan mati

Angan masih berkelana jauh dari raga yang terpatri pada kejenuhan
Sementara ayam jantan tlah bersiap menyambut pagi
Di mana jalan itu?
Ragu masih tertambat terlalu kuat, enggan beringsut

Kau…
Sudikah kiranya kau tuntun langkah gontaiku?
Putus asa ini tak henti menginvasi
Sulit kuingkari
Masih mencoba tegar berdiri melawan dunia
Terseok pahitnya kebohongan
Mengais kebahagiaan yang tak tentu ada
Lelah…

Sandaran, di manakah dirimu?
Aku lelah berjalan sendiri
Digerogoti pedihnya ketakutan
Semakin layu oleh panasnya wajah kenyataan
Jangan biarkan aku sendiri

Seperti ini.. Seperti mati…
#2015 #april


Bukan Sekarang


Jika hati dapat memberi keputusan terbaik, lalu apa arti dari rasa perih yang ditinggalkannya? Masalah tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan saja bisa sebegini menyayat. Belum lagi kuncup kecil yang harus kuterlantarkan di belakang sana. Kuncup mungil yang tak bersalah dosa apapun. Ialah rencana indah hari depanku yang kugadang-gadang sedari dulu. Di belakang sana, entah masih ada atau binasa.

Benarkah jika sebuah kesalahan dapat memberikan efek domino bagi si pembuatnya?. Faktanya memang semua ini tak jua usai. Lunglai sendi-sendiku kau paksa berjalan. Terus saja tanpa satupun titik hentian. Kemana lagi kita?. Aku lelah terus melangkah mengikuti angin. Sebutlah satu nama! Utara? Selatan? Barat? Timur? Ke mana...

Baiklah, biarkan kuikuti dulu arah anginmu. Angin sejuk yang seketika bisa menjadi badai. Angin yang membelai dalam langkah gontai. Angin yang memperdaya. Tanpa arah, membawaku berkali-kali ke tempat yang salah. Tapi tetap saja aku menikmati kesejukanmu. Masih terus mencarimu. 

Salah?. Entahlah... Tak boleh jatuh lagi di lubang yang sama, kata mereka. Bagaimana bisa kuputuskan, sementara tak kulihat di mana arah tujuan. Benarkah tak ada?. Atau perangkap itu lebih dahsyat dari yang lalu?. Seperti biasanya, tak mau menuduhkan sesuatu pada yang belum tentu.


Tidak ada yang akan sia-sia dari benih bernama kebaikan. Sekecil apapun. Yok semangat :)