Si Telinga Batu

Belum lagi sempat diri ini menghabiskan masa sendiri dalam ruang imaji yang tak bertepi, riuh itu telah kembali. Hiruk pikuk perdebatan manusia diiringi suara bising luar biasa. Ah sakit sekali rasanya jika harus membiarkan telinga ini terpaksa mendengar hal-hal kurang penting. Kalimat bernada sumbang namun tanpa nilai berimbang. Sampah!.

Yah...akhirnya seperti biasa diri ini bergumam tak jelas. Mengumpat orang itu dari kejauhan, tanpa suara. Iya, dalam hati saja. Apalah maksudnya memperdengarkan suara menggelegar bak perhelatan pesta penobatan Miss Univrese di kala oranglain tengah membutuhkan ketenangan?. Betul-betul mengesalkan!. Berasal dari lingkungan seperti apa gerangan kau. Barangkali dulu ibundamu mengidam burung ocehan atau speaker hajatan sehingga lahirlah kau dengan kesenangan yang (menurutku) sangat tidak keren. Memainkan lagu dengan volume super bising di lingkungan padat penduduk. Terbuat dari apa gerangan telinga itu?.

Hari-hariku jadi sering terasa kelabu, ya apalagi jika bukan lantaran si Blethu. Sebut saja namanya itu, karena jujur akupun tak tahu siapa namanya. Tak ingin tahu lebih tepatnya. Tak akan ada gunanya pula jika aku mengetahui namanya. Hmm...dalam ruangan 4x4 meter yang tak bisa dikatakan bagus ini aku masih bertahan meski kehendak untuk berlari ingin benar kulakukan. Hey kau Si Blethu bertelinga batu!. Semoga kau sadar akan perbuatan sangat mengganggu itu.

Ternyata, di tengah suasana seperti ini nyamuk pun jadi enggan menghampiri. Sepertinya mereka merasakan hal yang sama kurasakan?. Ah, sudahlah lebih baik lupakan.
(diens)

0 comments:

Posting Komentar